Minggu, 04 Mei 2014

Jangan Takut untuk Berkata "Tidak"


KOMPAS.com – Atas dasar keinginan untuk selalu membahagiakan orang lain, tak sedikit dari kita merasa sungkan untuk menolak dan berkata “Tidak”.

Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental di Vienna, Austria, mendeskripsikan sifat yang selalu ingin dipuji dan diterima oleh lingkungan adalah refleksi atas ketidakmampuan seseorang untuk fokus pada tujuan hidup. Alhasil, mereka terpaksa untuk melakukan hal yang
sebenarnya di luar ambang batas diri, hanya karena sulit berkata “Tidak” pada orang lain.

Laporan yang dipublikasikan pada sebuah jurnal di Pyschiatric School of Viktor Frankl, Vienna, Austria, menganjurkan supaya setiap orang menemukan orientasi hidup yang realistis dalam mencapai tujuan. Cara ini dipercaya dapat membentuk sikap dan prinsip untuk menghargai diri sendiri.

Agar prinsip Anda tetap dihargai oleh orang lain meskipun harus mengatakan “Tidak” pada mereka. Berikut beberapa langkah yang harus diterapkan:

Tentukan visi dan misi
Sama halnya dengan perusahaan yang memiliki visi dan misi dalam menjalani bisnis untuk meraih tujuan di masa depan. Setiap individu juga harus memiliki visi dan misi sebagai pegangan hidup dalam menentukan sikap ketika berhadapan pada kondisi yang kurang kondusif.

Asah talenta dan ketrampilan
Hidup di tengah era kapitalis seperti sekarang ini, setiap orang dituntut untuk memiliki keterampilan profesional yang menguntungkan diri sendiri juga orang lain. Orang yang terampil dan bertalenta lebih mudah memperoleh kesempatan untuk berbuat, bertindak, dan mengembangkan kreativitas di masa depan. Dengan begitu, lingkungan sekitar akan melihat Anda sebagai sosok yang inspiratif dan pantang menyerah.

Berani untuk berkata “Tidak”
Lahir dan hidup dengan ajaran budaya timur yang menjunjung tinggi sopan santun dan budi pekerti antar sesama, terkadang kerap disalahartikan sebagai tuntutan untuk selalu menyenangkan orang lain meskipun diri sendiri tersiksa. Padahal sebenarnya, menunjukkan sikap dengan berani berkata “Tidak” bukan berarti merefleksikan sifat pembangkang dan menolak mengikuti aturan.

Penting bagi kita untuk mulai belajar mengenali pola pikiran sendiri, yang selalu merasa bersalah jika menolak dan berkata tidak. Kita harus melatih diri untuk belajar atau bersedia “menabrak” pola pikiran tersebut, dengan berani menunjukkan sikap. Ketika memang benar-benar tidak bisa, ya bilang saja sudah ada janji lain, atau sedang sibuk. Pada dasarnya, tidak salah mengatakan “Tidak”, selama penolakan tersebut dilandasi dengan kejujuran. 

Read more…

DPR: UU OJK Paling Sulit Digodok


JAKARTA, KOMPAS.com - Pendirian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga pengawas industri jasa keuangan didasarkan pada Undang-undang (UU) Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan.

Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengaku UU tentang OJK tersebut merupakan salah satu produk UU yang tersulit diterbitkan. "UU OJK itu paling berat yang dibuat di parlemen. Paling rumit itu UU OJK," kata Ketua Komisi XI DPR Achsanul Kosasih dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (3/5/2014).

Menurut Achsanul, sulitnya menelurkan UU OJK lantaran ada pro dan kontra tentang pendirian lembaga pengawas tersebut. Di samping UU OJK, ada pula beberapa UU yang sulit dalam hal penyusunan dan penerbitannya. "UU terkait keuangan itu yang paling berat tentang OJK, karena ada yang setuju dan tidak. Kedua, UU tentang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial), kemudian UU money laundering," ujar dia.

Lebih lanjut, Achsanul mengungkapkan, semangat pendirian OJK adalah bagian dari semangat reformasi sistem keuangan.

"Kalau ada hal yang tidak sesuai, diskusikan dengan kami. Ada baiknya didiskusikan. Kalau ada yang kurang, diperbaiki sama-sama. Semangat OJK adalah semangat reformasi sistem keuangan," ucap Achsanul.

Read more…

Duet Aburizal-Prabowo Terhalang Tembok Besar


JAKARTA, KOMPAS.com - Politikus senior Partai Golongan Karya Zainal Bintang mengatakan duet bakal calon presiden Partai Golkar Aburizal Bakrie dan bakal calon presiden Partai Gerakan Indonesia Raya, Prabowo Subianto sulit terwujud. Pasalnya, kedua partai itu sudah memutuskan mengusung calon presiden.

"Ini gerakan tanpa bola yang sedang dimainkan. Tertumbuk pada dua tembok besar," kata Zainal saat diskusi di Jakarta, Minggu (4/5/2014).

Salah satu petinggi ormas pendiri Golkar Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) itu menilai, pertemuan yang terjadi antara Aburizal dan Prabowo beberapa waktu yang lalu terlalu banyak dipenuhi spekulasi. Menurut dia, itu adalah pertemuan normatif para politisi belaka.

"Integrasi Gerindra dan Golkar mengandung banyak masalah, karena dua-duanya sudah punya capres. Harus ada satu putaran siapa yang mau mengalah (menjadi cawapres), Prabowo yang mengalah atau Aburizal yang mengalah," tuturnya.

Meski begitu, ia mengatakan kemungkinan tersebut bisa saja terjadi dengan menggodok kelebihan dan kekurangan opsi Aburizal-Prabowo dan Prabowo-Aburizal sebagai capres dan cawapres. Tetapi, penentuan tersebut harus melalui proses dalam forum rapat pimpinan nasional Partai Golkar.

Sebelumnya, Prabowo dan Aburizal mengadakan pertemuan tertutup di kediaman Aburizal, kawasan Menteng, Jakarta Pusat, beberapa hari lalu. Seusai pertemuan yang berlangsung selama sekitar 90 menit itu, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan komunikasi secara lebih intensif. Keduanya juga menegaskan akan tetap menjadi bakal capres dari partainya masing-masing. Belum ada pembicaraan mengenai cawapres.

Read more…